Konon orang bijak berkata, para Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuan mereka. 
Sayangnya, gak semua perempuan seberuntung itu. 

Berapa banyak anak perempuan yang riang menunjukkan hasil karya terbaiknya, tapi tidak sedikitpun mendapat apresiasi -bahkan- sekedar lirikan ayahnya?

Berapa banyak anak perempuan yang berharap dibantu mengerjakan PR, memahami pelajaran sulit di sekolah, dan dibimbing mengeja a-ba-ta, tapi hanya mendapati Ayahnya pulang dalam keadaan kelelahan dan marah setiap kali didekati? 

Berapa banyak anak perempuan yang hari harinya dipenuhi ketakutan, saat sang Ayah setengah sadar, mulai berteriak dan memukuli ibu di depan matanya?

Berapa banyak anak perempuan yang rusak persepsi awalnya tentang pernikahan, hancur rasa hormatnya pada sosok suami, saat Ayahnya tak pulang pulang lalu didapati tengah main api dengan perempuan lain?

Perempuan perempuan itu, Menjalani masa kecil mereka dengan timpang.

Saat Ayah mereka gagal menjadi cinta pertama. Gagal. From the very first time..

Di hari mendatang, perempuan perempuan itu tumbuh jadi ibu dan istri,  yang setiap hari berdo’a, meminta pada Tuhan mereka agar apa yang mereka lalui dulu, sekalipun tak perlu dirasakan oleh anak anaknya. Matanya kaca setiap melihat anak tertawa bermain bersama ayahnya. Ada sedikit iri berkata dalam dirinya, “Saat kecil dulu, kenapa tak kumiliki, ayah juara itu?”

Tahukah Ayah? Dirimu adalah sosok lelaki pertama yang dikenal oleh anak perempuanmu. Kamu adalah sampel pertama baginya dari seluruh populasi di muka bumi. Lelaki pertama yang ada dalam hidupnya.

Caramu memperlakukan istri, akan jadi persepsi awal baginya mengenai relasi rumah tangga. Kedekatanmu dengan anak anak, akan jadi patokan di kehidupannya kelak.

Mungkin bagimu sepele, Sekedar mengabaikan.. Sekedar mengacuhkan.. Sekedar membentak karna kelelahan.. Sekedar menyakiti hati ibunya..

Tapi dia, anak perempuanmu mengingat rapih semuanya. Mencatat sempurna saat kau gagal menjadi cinta pertamanya sedari detik pertama..

Ayah, tahukah.. Rasulullah tidak pernah tidur sebelum mencium putrinya.  Saat ditanya mengapa, beliau menjawab, “Setiap aku rindu syurga, aku mendapatkan semerbak bau harum syurga pada diri Fatimah..”

Begitulah junjungan terbaik kita, Ia menemukan sepotong syurga, dalam sosok anak perempuannya..

Ayah, Peluklah anak perempuanmu seerat yang kau bisa..  Pulanglah ke rumah.. Jadilah cinta pertama dan terhangat untuknya jauh jauh jauh lebih dulu dari ribuan lelaki di luar sana..

~Jayaning Hartami