Muhasabah/instrospeksi Diri…

Sering kali kita berkata…
Ketika ada orang yang memuji kita, maka kita katakan, bahwa sesungguhnya itu semua hanyalah titipan dari Allah …!
Bahwa jabatan, karir, harta hanyalah titipan dari Nya…!

Bahwa rumah kita yang mewah juga hanyalah titipan-Nya….!
Bahwa harta kita yang banyak, juga kita katakan: “hanyalah titipan-Nya…!”

Akan tetapi, mengapa kita tidak pernah bertanya, mengapa Allah SWT telah menitipkannya kepada kita?

Serta untuk apa Allah menitipkan itu semua kepada kita?

Jika bukan milik kita, apa yang harus kita lakukan untuk Allah sebagai pemilik semuanya itu?

Adakah kita memiliki hak atas sesuatu yang bukan milik kita?

Mengapa hati kita justru terasa sangat berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh Allah?

Ketika Allah meminta kembali sesuatu yang telah dititipkan Nya kepada kita, maka kita sebut itu sebagai musibah…?
Pindah tugas, Kita sebut itu sebagai ujian…?
Masa pensiun, Kita sebut itu sebagai petaka..?
Ketika sakit, Kita sebut dengan sebutan apa saja yang melukiskan, bahwa itu adalah derita bagi kita…?

Ketika kita berdoa, kita juga selalu meminta titipan yang harus sesuai dengan hawa nafsu dan keinginan kita… ?

Kita ingin lebih sukses karis, lebih banyak harta, lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas, dan kita tolak sakit, serta kita tolak kemiskinan…?

Seolah-olah semua “yang tidak sesuai dengan keinginan kita”, kita sebut sebagai hukuman bagi kita…?

Seolah-olah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti rumus matematika: “ketika kita rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dari kita….?

Sehingga sering kali Kita perlakukan Allah seolah-olah mitra kita, dan bukan sebagai Khaliq kita…?

Kita minta Allah membalas “perlakuan baik kita” dan
menolak keputusan Allah yang tidak sesuai dengan keinginan kita…?

Padahal tiap hari telah kita nyatakan dalam setiap melaksanakan sholat: “Hanya kepada Engkaulah aku menyembah dan juga hanya kepada Engkaulah aku meminta pertolongan…!”

Selain itu juga selalu kita nyatakan: “Hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah kepada Nya …”.

Akan tetapi, mengapa kita seringkali ingin mengalahkan keputusan Allah untuk mewujudkan berbagai keinginan dan kepentingan kita.. ?
Sehingga setiap peristiwa atau setiap kejadian, harus sesuai dengan keinginan kita…? dan seterusnya…?

Na’uzubillah min zaaliiq…!
Semoga Allah senantiasa mengampunkan segala dosa dan kesalahan kita…! Aamiin YRA

View on Path