Kerap kali orang tua dan kaum dewasa melakukan beberapa hal dengan atau tanpa sengaja di depan anak. Bila itu baik, tak masalah. Namun jika jelek, kontan menjadi contoh buruk bagi anak-anak dan pemuda di lingkungan setempat.

“Bilang saya tidak ada di rumah,” begitu kadang para orang tua berpesan kepada pasangannya, pembantu, bahkan pada anak mereka sendiri ketika telepon berdering. Meski kita menganggap sepele, namun kita sudah memberi contoh bagaimana berbohong kepada anak.

Ketika mereka melihat orang tua berbohong dengan mudah, mereka pun akan berkata pada diri sendiri, “Boleh kok berbohong. Ayah dan ibu juga melakukan itu,”.

Orang tua harus lebih sadar akan peran sebagai contoh bagi anak-anak. Soal telepon misal, kita bisa menghindari ‘kebohongan sepele berakibat besar’ dengan mengeset identitas pemanggil dalam ponsel anda.

Bila itu telepon rumah, cukup beri pesan pada pengangkat telepon jika anda tidak bisa berbicara saat ini, bukan tidak ada dirumah. Pikirkan cara apa pun, tapi jangan pernah berbohong.

Banyak hal-hal kecil lain yang orang dewasa lakukan sesungguhnya memberi contoh buruk tanpa mereka pernah sadari. Mengingatkan diri adalah salah satu cara jitu orang tua terhadap peran mereka. Memang manusia tak luput dari alpa, namun ada beberapa wilayah ‘merah’ di kehidupan kita sehari-hari yang terutama harus dijaga sebisa mungkin. Berikut berapa anjuran dari situs keluarga islami, Zawaj.com

Jangan pernah membuat janji salah kepada anak.

Contoh sederhana, orang tua tidak seharusnya berkata, “Saya akan belikan kamu es krim bila kamu jadi anak baik,”. Terlebih jika anda tidak benar-benar bermaksud mengajak mereka ke toko es krim. Itu juga bentuk kebohongan. Bila anda melakukan, anak-anak akan kehilangan rasa percaya terhadap semua yang kita katakan.

Jangan adu mulut dengan pasangan di depan anak.

Bayangkan, apa yang dirasakan anak-anak melihat ibu dan ayah mereka berteriak satu sama lain, apalagi sampai saling memukul? Horor mencekam macam apa yang mereka rasakan saat itu. Bagaimana pula mereka tahu apa yang harus dilakukan dan mengatasi perasaan usai kejadian. Akankah mereka bisa merasakan hubungan penuh kasih dengan ayah dan ibu setelah melihat orang tua mereka bersikap kasar dan menyakiti satu sama lain. Jika kesalahan terlanjur terjadi dan anda sadar kemudian, segera perbaiki. Pastikan anda ikut sertakan anak anda, bahkan meminta maaf kepada mereka atas sikap anda yang tidak dewasa dan tidak Islami tersebut. Insya Allah, mereka akan menghargai kita. Hanya perhatikan syarat utama, akuilah anda salah di depan anak dan lakukan dengan tulus.

Jangan pernah mengolok orang lain.

Pernahkan anda tiba-tiba di depan anak anda berkata, “Hei lihat itu si jelek di sana..ha ha ha,”. Jika ya, waspadalah, anak-anak dapat menganggap itu perilaku yang sah-sah saja. Suatu saat ketika tiba-tiba pula anda melihat anak anda berkomentar buruk tentang orang lain dan yang dikomentari merasa dipermalukan, anda mesti ingat, bisa jadi andalah yang mengajari mereka bertingkah seperti itu.

Jangan pernah menggosip

Kita tidak boleh menggosip atau berkata jahat tentang orang lain dibelakang mereka. Meski si korban gosip mungkin tak mendengar, tapi anak kita mungkin mendengar. Lagipula bergosip dilarang kerasa dalam agama. Mereka akan melihat kita, orang tua, memakan daging saudara dan saudari yang kita gosipkan, dan itu sangat mempengaruhi mereka di berbagai arah. Ada beragam reaksi anak, mereka mungkin akan menanggap itu sekedar perilaku normal, namun dalam kadar ekstrim, mereka bisa-bisa muak dengan orang tua karena berperilaku macam itu. Baik di kedua sisi, anak anda akan terpengaruh secara negatif.

Jangan pernah mendengar siaran radio atau tayangan TV buruk

Ke depan, ketika anda mengatakan kepada anak untuk tidak menonton acara penuh kekerasan dan adegan seronok di TV, namun anda sendiri lanjut-lanjut saja menonton, mereka akan melihat kita munafik. Anak bisa kehilangan rasa hormat gara-gara sikap tersebut. Orang tua memang harus berupaya keras, karena apa yang diperbuat orang tua akan memiliki dampak besar terhadap perilaku anak. Tentu anda tidak ingin mendengar anak anda berdalih, “Ini bukan yang dikatakan ayah dan ibu, tapi ini apa yang dilakukan ayah dan ibu,” Membesarkan anak memang tanggung jawab luar biasa besar. Namun bila ingin berhasil, antara tindakan dan kata-kata mestilah sebangun. Sebagai manusia memang tak luput dari kesalahan. Tapi sebisa mungkin, JANGAN LAKUKAN DI DEPAN ANAK.

(Repbulika, 3 Agustus 2009)