BERCERMIN DIRI

Desember 10, 2009

Sahabatku,

Dalam keseharian kehidupan ini, kita seringkali melakukan aktivitas bercermin. Tidak pernah bosan barang sekalipun padahal wajah yang kita tatap, itu-itu juga, aneh bukan?! Bahkan hampir pada setiap kesempatan yang memungkinkan, kita selalu menyempatkan diri untuk bercermin. Mengapa demikian? Sebabnya, kurang lebih karena kita ingin selalu berpenampilan baik, bahkan sempurna. Kita sangat tidak ingin berpenampilan mengecewakan, apalagi kusut dan acak-acakan tak karuan.

Hanya saja, jangan sampai terlena dan tertipu oleh topeng sendiri, sehingga kita tidak mengenal diri yang sebenarnya, terkecoh oleh penampilan luar. Oleh karena itu marilah kita jadikan saat bercermin tidak hanya topeng yang kita amat-amati, tapi yang terpenting adalah bagaimana isi dari topeng yang kita pakai ini. Yaitu diri kita sendiri.

Sahabatku,

Mulailah amati wajah kita seraya bertanya, “Apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya bersinar indah di surga sana ataukah wajah ini yang akan hangus legam terbakar dalam bara jahannam?”

Lalu tatap mata kita, seraya bertanya, “Apakah mata ini yang kelak dapat menatap penuh kelezatan dan kerinduan, menatap Allah yang Mahaagung, menatap keindahan surga, menatap Rasulullah, menatap para Nabi, menatap kekasih-kekasih Allah kelak? Ataukah mata ini yang akan terbeliak, melotot, menganga, terburai, meleleh ditusuk baja membara? Akankah mata terlibat maksiat ini akan menyelamatkan? Wahai mata apa gerangan yang kau tatap selama ini?”

Lalu tataplah mulut ini, “Apakah mulut ini yang di akhir hayat nanti dapat menyebut kalimat thayibah, ‘laaillaahaillallaah’, ataukah akan menjadi mulut berbusa yang akan menjulur dan di akhirat akan memakan buah zakum yang getir menghanguskan dan menghancurkan setiap usus serta menjadi peminum lahar dan nanah? Saking terlalu banyaknya dusta, ghibah, dan fitnah serta orang yang terluka dengan mulut kita ini!”

“Wahai mulut apa gerangan yang kau ucapkan? Betapa banyak dusta yang engkau ucapkan. Betapa banyak hati-hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam? Betapa banyak kata-kata yang manis semanis madu palsu yang engkau ucapkan untuk menipu beberapa orang? Betapa jarangnya engkau jujur? Betapa jarangnya engkau menyebut nama Allah dengan tulus? Betapa jarangnya engkau syahdu memohon agar Allah mengampunimu?”

Sahabatku,

Tataplah diri kita dan tanyalah, “Hai kamu ini anak shaleh atau anak durjana? Apa saja yang telah kamu peras dari orang tuamu selama ini? Dan apa yang telah engkau berikan? Selain menyakiti, membebani, dan menyusahkannya?! Tidak tahukah engkau betapa sesungguhnya engkau adalah makhluk tiada tahu balas budi!”

Wahai tubuh, apakah engkau yang kelak akan penuh cahaya, bersinar, bersukacita, bercengkrama di surga sana? Atau tubuh yang akan tercabik-cabik hancur mendidih di dalam lahar membara jahannam tanpa ampun dengan derita tiada akhir?”

“Wahai tubuh, berapa banyak maksiat yang engkau lakukan? Berapa banyak orang-orang yang engkau zhalimi dengan tubuhmu? Berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu? Berapa banyak perindu pertolonganmu yang engkau acuhkan tanpa peduli padahal engkau mampu? Berapa pula hak-hak yang engkau rampas?”

“Wahai tubuh, seperti apa gerangan isi hatimu? Apakah tubuhmu sebagus kata-katamu atau malah sekelam daki-daki yang melekat di tubuhmu? Apakah hatimu segagah ototmu atau selemah daun-daun yang mudah rontok? Apakah hatimu seindah penampilanmu atau malah sebusuk kotoran-kotoranmu?”

Sahabatku,

Ingatlah amal-amal kita, “Hai tubuh apakah kau ini makhluk mulia atau menjijikkan, berapa banyak aib-aib nista yang engkau sembunyikan dibalik penampilanmu ini? Apakah engkau ini dermawan atau si pelit yang menyebalkan? Berapa banyak uang yang engkau nafkahkan dan bandingkan dengan yang engkau gunakan untuk selera rendah hawa nafsumu”

“Apakah engkau ini shaleh atau shalehah seperti yang engkau tampakkan? Khusyu-kah shalatmu, zikirmu, do’amu, …ikhlaskah engkau lakukan semua itu? Jujurlah hai tubuh yang malang! Ataukah menjadi makhluk riya tukang pamer!”

Sungguh betapa beda antara yang nampak di cermin dengan apa yang tersembunyi. Betapa aku telah tertipu oleh topeng? Betapa yang kulihat selama ini hanyalah topeng, hanyalah seonggok sampah busuk yang terbungkus topeng-topeng duniawi!

Sahabat-sahabat sekalian,

Sesunguhnya saat bercermin adalah saat yang tepat agar kita dapat mengenal dan menangisi diri ini.***

(Sumber : Jurnal MQ Vol.1/No.1/Mei 2001)


MEMAKNAI MILAD

November 22, 2009

Jika kita mendengar kata ini, pastilah yang langsung terbsit dalam pikiran kita masing-masing adalah hari yang menyenangkan, sejenak melupakan masalah-masalah kita karena pada hari itu kita menjadi orang yang paling berbahagia.

Sudah merupakan suatu tradisi bila di hari ini kita mengadakan pesta dengan nama syukuran. Padahal di dalamnya kita justru berbuat banyak kemaksiatan. Mungkin juga enggak ngadain pesta tapi… traktir temen-temen kita makan super banyak.

Kasus lain membuktikan bahwa banyak dari para remaja yang merasa menjadi orang yang paling menderita lantaran tidak seorangpun yang ingat hari ulang tahunnya.

Sebenarnya makna apa saja yang terkandung dalam ulang tahun itu sendiri??
Bertambahnya pengalaman hidup pastinya udah pada tau khan kalau namanya ulang tahun itu umur kita bertambah dan udah pasti dong seiring bertambahnya umur kita harus siap menghadapi lika-liku kehidupan. Untuk itu kita harus mempersiapkan jiwa yang kokoh dalam menerima cobaan dan ujian untuk menguji keimanan kita. Jadi enggak hanya umur kita aja yang bertambah tapi juga iman kita. Amiin.

Setahap menuju kematian pada saat itu berartijatah umur kita berkurang, karena jatah umur kita sudah diatur oleh Allah untuk hidup di dunia ini. Dengan kata lain seiring bertambahnyawaktu, semakin dekat dengan kematian, dengan kubur, dengan hari perhitungan (yaumul hisab), semakin dekat dengan akhirat (tujuan hidup kita dimana kita akan hidup abadi di dalamnya). Sudah siapkah kita menghadapi semua itu?? Terus gimana nih kita nyikapin yang namanya hari ulang tahun?? Sebaiknya jiga gak perlu berhura-hura ada baiknya kita:

  • merenungi apa yang terjadi beberapa tahun silam.Padasaat ibu kita tengah berjuang antara hidup dengan mati dan ayah menunggu denagn was-was dan ketika pertama kali kita melihat dunia. Dengan mengingat ini,alangkah baiknya kan jika kita mengungkapakan rasa terimakasih kita untuk orang tua (terutama ibu) yang telah memberikan kasih saying dan perlindungan hingga kita mapu berfikir mandiri pad saat ini.
  • Mengingat apa yang kita lakukan di tahun sebelumnya. Dengan begitu kita menjadi tahu apa saja yang sudah kita lakukan pada tahun di mana kita lebih muda. Kita berinstropeksi sehingga kita tidak menjadi orang yang bodoh dengan mengulang kesalahan yang sama.
  • Bersyukur
  • Menargetkan apa yang akan kita lakukan tahun ini. Mudah-mudahan target utama kita sama yakni menjadi hamba Allah yang baik.

“Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyanyang itu adalah prang-orang yang berjalan di atas bumi dengan penuh kerendahan hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata yang (mengandung) keselamatan. Dan orang-orang yang berkata: Wahai Rabb kami, jauhkanlah adzab jahanam dari kami sesungguhnya adzabnya itu adalah kebibnasaan yang kekal”(Q.S. Al Furqan : 63-68)

 


HENTIKAN SIKAP BURUK DI DEPAN ANAK

Oktober 11, 2009

Kerap kali orang tua dan kaum dewasa melakukan beberapa hal dengan atau tanpa sengaja di depan anak. Bila itu baik, tak masalah. Namun jika jelek, kontan menjadi contoh buruk bagi anak-anak dan pemuda di lingkungan setempat.

“Bilang saya tidak ada di rumah,” begitu kadang para orang tua berpesan kepada pasangannya, pembantu, bahkan pada anak mereka sendiri ketika telepon berdering. Meski kita menganggap sepele, namun kita sudah memberi contoh bagaimana berbohong kepada anak.

Ketika mereka melihat orang tua berbohong dengan mudah, mereka pun akan berkata pada diri sendiri, “Boleh kok berbohong. Ayah dan ibu juga melakukan itu,”.

Orang tua harus lebih sadar akan peran sebagai contoh bagi anak-anak. Soal telepon misal, kita bisa menghindari ‘kebohongan sepele berakibat besar’ dengan mengeset identitas pemanggil dalam ponsel anda.

Bila itu telepon rumah, cukup beri pesan pada pengangkat telepon jika anda tidak bisa berbicara saat ini, bukan tidak ada dirumah. Pikirkan cara apa pun, tapi jangan pernah berbohong.

Banyak hal-hal kecil lain yang orang dewasa lakukan sesungguhnya memberi contoh buruk tanpa mereka pernah sadari. Mengingatkan diri adalah salah satu cara jitu orang tua terhadap peran mereka. Memang manusia tak luput dari alpa, namun ada beberapa wilayah ‘merah’ di kehidupan kita sehari-hari yang terutama harus dijaga sebisa mungkin. Berikut berapa anjuran dari situs keluarga islami, Zawaj.com

Jangan pernah membuat janji salah kepada anak.

Contoh sederhana, orang tua tidak seharusnya berkata, “Saya akan belikan kamu es krim bila kamu jadi anak baik,”. Terlebih jika anda tidak benar-benar bermaksud mengajak mereka ke toko es krim. Itu juga bentuk kebohongan. Bila anda melakukan, anak-anak akan kehilangan rasa percaya terhadap semua yang kita katakan.

Jangan adu mulut dengan pasangan di depan anak.

Bayangkan, apa yang dirasakan anak-anak melihat ibu dan ayah mereka berteriak satu sama lain, apalagi sampai saling memukul? Horor mencekam macam apa yang mereka rasakan saat itu. Bagaimana pula mereka tahu apa yang harus dilakukan dan mengatasi perasaan usai kejadian. Akankah mereka bisa merasakan hubungan penuh kasih dengan ayah dan ibu setelah melihat orang tua mereka bersikap kasar dan menyakiti satu sama lain. Jika kesalahan terlanjur terjadi dan anda sadar kemudian, segera perbaiki. Pastikan anda ikut sertakan anak anda, bahkan meminta maaf kepada mereka atas sikap anda yang tidak dewasa dan tidak Islami tersebut. Insya Allah, mereka akan menghargai kita. Hanya perhatikan syarat utama, akuilah anda salah di depan anak dan lakukan dengan tulus.

Jangan pernah mengolok orang lain.

Pernahkan anda tiba-tiba di depan anak anda berkata, “Hei lihat itu si jelek di sana..ha ha ha,”. Jika ya, waspadalah, anak-anak dapat menganggap itu perilaku yang sah-sah saja. Suatu saat ketika tiba-tiba pula anda melihat anak anda berkomentar buruk tentang orang lain dan yang dikomentari merasa dipermalukan, anda mesti ingat, bisa jadi andalah yang mengajari mereka bertingkah seperti itu.

Jangan pernah menggosip

Kita tidak boleh menggosip atau berkata jahat tentang orang lain dibelakang mereka. Meski si korban gosip mungkin tak mendengar, tapi anak kita mungkin mendengar. Lagipula bergosip dilarang kerasa dalam agama. Mereka akan melihat kita, orang tua, memakan daging saudara dan saudari yang kita gosipkan, dan itu sangat mempengaruhi mereka di berbagai arah. Ada beragam reaksi anak, mereka mungkin akan menanggap itu sekedar perilaku normal, namun dalam kadar ekstrim, mereka bisa-bisa muak dengan orang tua karena berperilaku macam itu. Baik di kedua sisi, anak anda akan terpengaruh secara negatif.

Jangan pernah mendengar siaran radio atau tayangan TV buruk

Ke depan, ketika anda mengatakan kepada anak untuk tidak menonton acara penuh kekerasan dan adegan seronok di TV, namun anda sendiri lanjut-lanjut saja menonton, mereka akan melihat kita munafik. Anak bisa kehilangan rasa hormat gara-gara sikap tersebut. Orang tua memang harus berupaya keras, karena apa yang diperbuat orang tua akan memiliki dampak besar terhadap perilaku anak. Tentu anda tidak ingin mendengar anak anda berdalih, “Ini bukan yang dikatakan ayah dan ibu, tapi ini apa yang dilakukan ayah dan ibu,” Membesarkan anak memang tanggung jawab luar biasa besar. Namun bila ingin berhasil, antara tindakan dan kata-kata mestilah sebangun. Sebagai manusia memang tak luput dari kesalahan. Tapi sebisa mungkin, JANGAN LAKUKAN DI DEPAN ANAK.

(Repbulika, 3 Agustus 2009)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.